Rumah Syahroni Adalah Lokasi yang Digeledah KPK Dalam Pengembangan Korupsi Proyek PU-PR Lampung Selatan

Rumah Syahroni Adalah Lokasi yang Digeledah KPK Dalam Pengembangan Korupsi Proyek PU-PR Lampung Selatan

Kondisi kediaman Syahroni, 20 Juli 2020. Dia adalah Kadis PU-PR Lampung Selatan yang rumahnya digeledah KPK pada 13 Juli 2020. Foto: Ade Setiawan/Fajar Sumatera.

Bandar Lampung – Tarmizi tidak kaku lagi ketika mendapat permintaan dari petugas Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] untuk menyaksikan penggeledahan di salah satu rumah milik warganya. Senin, 13 Juli 2020 sekitar pukul 16.00 WIB, dia disambangi oleh empat orang petugas KPK.

Pengalaman Tarmizi yang pertama ketika KPK meminta dia untuk menyaksikan penggeledahan, pada saat lembaga antirasuah tersebut melakukan Operasi Tangkap Tangan [OTT] kepada mantan Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan. Syahroni yang dia ketahui, sudah sejak dulu dikenal warga Rajabasa memiliki harta berlimpah hasil peninggalan orangtua.

Rumah Syahroni persis berada di Jalan Pramuka, Gang Kartika Nomor 24 B, Kelurahan Rajabasa, Bandar Lampung. Tepatnya, lokasi rumah itu berada pada RT 04, yang diketuai oleh Tarmizi. Tak susah mencari rumah Syahroni. Begitu masuk Gang Kartika, rumahnya yang paling mencolok. Bergerbang besar, berlantai dua, dan luas.

“Saya atas nama Tarmizi, Susil selaku Kepala Lingkungan, Jauhari selaku Bhabinkamtibnas dan Handoko adalah Babinsa. Itu semua adalah pihak yang menyaksikan penggeledahan oleh KPK di rumah Syahroni. Waktu itu, hari Senin 13 Juli,” tutur Tarmizi.

Seingat Tarmizi, petugas KPK memang sempat melakukan hal yang tidak biasa. Yang dimaksud dia adalah, petugas KPK yang membawa sejumlah koper berisi komputer, melompati pagar rumah Syahroni untuk masuk ke dalam. “Karena awal-awal tidak ada yang merespon panggilan petugas KPK dari luar rumah. Mereka meminta kami menyaksikan hal itu. Dan meminta persetujuan kami untuk melompati pagar rumah Syahroni,” ucap Tarmizi saat ditemui reporter Fajar Sumatera di kediamannya tak jauh dari rumah Syahroni, Senin, 20 Juli 2020.

Pria berambut panjang ini mengatakan, begitu melompat pagar, akhirnya penjaga rumah Syahroni membukakan gerbang sehingga memungkinkan kendaraan milik petugas masuk ke halaman rumah. Di dalam rumah, ternyata ada isteri Syahroni. Petugas KPK, seingat Tarmizi, sempat melontarkan sejumlah pertanyaan kepada isterinya Syahroni. Namun dari beberapa pertanyaan, jawaban yang muncul lebih banyak bermakna tidak tahu.

“Sempat ditanyai beberapa pertanyaan. Dia bilang tidak tahu. Sempat ada pertanyaan yang akhirnya dijawab, karena ditanyai terus. Pertanyaan itu soal uang lembaran seratus ribu di dalam laci rumahnya Syahroni. Uang itu ditanya milik siapa dan darimana. Awal-awal isterinya bilang enggak tahu. Tapi karena ditekan terus, dia jawab. Katanya itu uang tukin, tunjangan kinerja suaminya. Kira-kira ada dua jutaan uangnya. Posisi uangnya diikat gitu,” ungkap Tarmizi.

 

Rumah Syahroni Adalah Lokasi yang Digeledah KPK Dalam Pengembangan Korupsi Proyek PU-PR Lampung Selatan

Kondisi pelataran rumah Syahroni, Senin malam, 20 Juli 2020. Foto: Ade Setiawan/Fajar Sumatera.

Penggeledahan itu menurutnya memakan waktu hampir dua sampai tiga jam. Petugas KPK meminta isteri Syahroni, lanjut Tarmizi, untuk memberikan sejumlah kunci ruangan di dalam rumah. “Isterinya dimintai kunci-kunci ruangan. Dikasih sama isterinya. Selain uang, ada juga handphone. Banyak handphone di rumah itu,” kata Tarmizi.

Walau begitu, Tarmizi menegaskan, petugas KPK diyakininya tidak ada membawa sesuatu barang dari dalam rumah Syahroni. Hanya saja, sambung Tarmizi, sempat terjadi komunikasi lewat telepon selular antara Syahroni dan isterinya di hadapan KPK dan dia. “Pertama-tama Syahroni dihubungi tapi tidak nyambung. Lalu isterinya yang nelpon, diangkat sama Syahroni. Entah telepon itu atas permintaan KPK atau isterinya sendiri, kita tidak tahu, kita hanya menyaksikan. Pembicaraan saat itu juga kita tidak dengar, karena tidak dalam kondisi didengarkan untuk kami, tidak di-loudspeaker,” akunya.

Tarmizi mengaku tidak mendengar atau meminta penjelasan kepada petugas KPK terkait apakah penggeledahan rumah tersebut merupakan dampak dari penetapan tersangka kepada Syahroni dan apakah Syahroni sudah ditahan atau belum. “Kami kan cuma disuruh menyaksikan. Tak ada informasi soal itu, apa dasar kami bertanya. Yang jelas, tidak ada kisi-kisi soal informasi itu. Kami cukup diminta untuk menyaksikan. Dan saya kira, KPK memang selalu tertutup untuk hal itu dan mereka lebih kepada teratur dan terampil ketika menggeledah. Sampai-sampai mereka mau lompat pagar saja harus ijin dengan kami,” imbuh Tarmizi.

Baca Juga:  KASN Singgung Maraknya Birokrasi Berpolitik Jelang Pilkada 2020, KPK: Itu Pangkal Dari Tindakan Korupsi

Kediaman Syahroni akhirnya menjadi jawaban atas pertanyaan, dimana saja lokasi penggeledahan KPK berlangsung sejak 13 sampai 16 Juli seperti disampaikan Plt Juru Bicara pada Bidang Penindakan KPK Ali Fikri dalam keterangan persnya pada Minggu, 19 Juli 2020.

Ali Fikri menyebut, selain telah memeriksa 30 orang dalam konteks pengembangan perkara korupsi Zainudin Hasan, KPK juga telah menggeledah salah satu rumah di Bandar Lampung. Dan rumah itu adalah milik Syahroni. [Ricardo Hutabarat & Ade Setiawan]

Hermansyah Hamidi Korupsi Zainudin Hasan KPK Lampung Selatan Pengembangan Perkara Korupsi Zainudin Hasan Syahroni

Posting Terkait