Terlibat Fee Proyek Lamsel, Wahyu Lesmono Bakal Seret Anggota DPRD Balam?

Bandar Lampung – Keterlibatan mantan anggota DPRD kota Bandarlampung Wahyu Lesmono dalam ijon proyek di Lampung selatan atas terdakwa eks Bupati Zainuddin Hasan mendapat tanggapan dari Praktisi hukum Lampung.

Praktisi hukum Ginda Ansori Wayka mengatakan, bahwa ketika berbicara hukum atas pemberi atau penerima sesuatu dalam aliran dana fee Proyek harus dapat bertanggung jawab.

“Bicara hukum siapa yang dapat dibuktikan ada aliran dana dan dapat dibuktikan maka yang bersangkutan harus bertanggung jawab,”Kata Ginda saat di hubungi fajarsumatera.co.id. Selasa (13/04)

Untuk itu, terkait ada dugaan lain selain mantan anggota DPRD kota Bandar Lampung ia menjelaskan, siapapun dapat terlibat asalkan memenuhi persyaratan yang sudah di tentukan oleh terdakwa.

“Siapapun dapat saja menerima atau diberi pekerjaan oleh ZH yang tentunya memenuhi persyaratan dengan catatan menyetorkan sejumlah dana sebelum pekerjaannya digelar sesuai dengan kesepakatan persentase yang disepakati,”ucapnya

Pria yang akrab di sapa Ginda itu menambahkan, jika Idealnya untuk menjerat semua pelaku tindak pidana korupsi bukan hanya soal menghadirkan saksi dengan digali di pengadilan, akan tetapi harus di dalami keberadaan yang bersangkutan sesuai dengan alat bukti KPK.

“karena kesaksian para saksi dapat saja dihubung-hubungkan dengan pihak lain, sehingga KPK dapat menjadikan perkara ini sebagai perkara baru dengan sprindik yang terpisah atau sprindik yang baru sesuai dengan perbuatan pelaku apabila fakta hukum dalam persidangan ini sesuai dengan alat bukti penguat dari KPK,”ungkap Ginda

Selain itu, ia berharap kepada siapapun yang bermain proyek, untuk tidak memberikan janji dalam fee yang akan di berikan karena hal itu telah masuk dalam unsur perbuatan hukum.

“Bahwa siapapun bukan hanya anggota DPRD dan pejabat saja yang bermain proyek dengan cara culas dengan mengatur dengan sejumlah janji dan janji itu dilaksanakan, maka masuk dalam perbuatan yang dilarang dan dapat dipidana. Oleh karena perbuatan ini dilarang maka siapapun agar tidak bermain proyek dengan iming-imingan dan harus sesuai dengan prosedur hukum, “tandasnya

Sebelumnya, Mantan Ketua DPD PAN Kota Bandarlampung Wahyu Lesmono diduga terlibat proyek Rp.14.5 Milyar di masa jabatan Kadis Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hermansyah harmidi dan Anjar Asmara pada tahun 2017 dan 2018 . Rabu (07/04)

Jaksa Penuntut Umum KPK RI Taufiq Ibnugroho menanyakan soal perkenalan dirinya dengan Hermansyah harmidi di tahun 2017.

“Di kenalkan oleh Agus BN bertemu di rumah Hermansyah harmidi di kaliawi, “urainya

Dari perkenalan itu, ia menerangkan bahwa adanya proyek di daerah lamsel tetapi dengan syarat harus menyetorkan sejumlah fee dari total proyek yang akan di kerjakan.

“Dapat proyek 7 milyar dan di mintai kewajiban untuk Setor 20% dari nilai proyek yang di tawarkan oleh terdakwa Hermansyah harmidi, “kata wahyu Lesmono kepada JPU KPK RI.

Kemudian, JPU kembali menanyakan terkait penyerahan uang tersebut di berikan kepada siapa.

” Uang itu saya serahkan ke agus BN dari jatah Rp 7 milyar,proyek itu memang dari pak Hermansyah bukan dari plotingan dan saya sendiri tidak pernah meminta Nominal proyek yang akan di berikan,”kata dia

Setelah mendapatkan proyek dan menyetorkan sejumlah uang, wahyu menjelaskan, bahwa pekerjaan tersebut di berikan ke saudaranya untuk teknis lapangan dalam mengerjakan.

“Saudara saya yang mengerjakan proyek tersebut sebagai kontraktor yang memiliki perusahaan CV sakura,dan Saya menyetorkan rp. 1.4 milyar yang di bungkus plastik di tahun 2017 atas proyek 7 milyar kepada Agus BN atas 11 paket yang diberikan,”ungkapnya

Lalu, Ia menambahkan jika di tahun 2018 kembali di berikan proyek oleh Kadis PUPR Anjar Asmara dengan menyetorkan 10 persen dari total proyek yang di kerjakan.

“Pak Anjar dateng ke kantor saya yang berada di jln cut mutia Bandar Lampung dan di situ ngobrol – ngobrol tentang masalah proyek dan saya sendiri di berikan 7,5 milyar dengan 9 paket dan di suruh setorkan 10 persen sebesar 750 juta, “jelasnya

Selanjutnya, uang ijon proyek itu di berikan ke Syahroni di salah satu hotel di Bandarlampung.

” Saya bertemu dengan Syahroni di hotel aston dan ia membawa plotingan proyek tersebut dan Penyerahan fee itu setelah dua bulan proyek saya kerjakan saya setorkan dua kali yang pertama 500 juta dan 250 juta,”pungkasnya

Reporter Agung Kurniawan

Posting Terkait