TPID Cegah Kenaikan Harga

Ilustrasi Kenaikan Harga Sembako. (Ist)

BANDARLAMPUNG—Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung merumuskan tiga kesepakatan untuk mengantisipasi kenaikan harga dan ketersediaan sembako, khususnya menjelang hari-hari besar keagamaan.

Hal ini berdasarkan hasil rapat terpadu bersama dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Bank Indonesia,  produsen dan distributor barang kebutuhan pokok serta Tim Terpadu TPID Kabupaten/Kota, Kamis (20/4) di Aula Gedung Perwakilan Bank Indonesia.

Beberapa kesepakatan antara lain, seluruh TPID kab/kota berkomitmen untuk melakukan 4K yakni menjamin ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi.

Kedua, seluruh TPID diharapkan melakukan koordinasi dengan tokoh/pemuda agama tentang pentingnya “bijak dalam berbelanja” terutama pada bulan puasa. Ketiga,TPID Provinsi Lampung segera berkoordinasi dengan stakeholder dalam forum CSR untuk mendukung pasar murah bersubsidi.

Ketua TPID Provinsi Lampung, Sutono menuturkan, Lampung merupakan produsen bahan kebutuhan pokok masyarakat. Disamping untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Lampung juga untuk memenuhi kebutuhan provinsi sekitarnya seperti Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten dan DKI Jakarta.

Namun menjelang hari-hari besar keagamaan nasional di sebagian besar wilayah Provinsi Lampung seringkali terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok. Tentunya hal ini akan memberatkan masyarakat selaku konsumen.

“Untuk itu rapat kali ini bertujuan memastikan adanya ketersediaan barang guna menjamin stabilitas harga lebih khusus juga untuk menekan laju inflasi di Provinsi Lampung,” kata dia.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Perdagangan Jasa Lasminingsih mengatakan, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Perdagangan telah melakukan upaya untuk mendorong nilai inflasi ke tingkat yang lebih rendah dari sebelumnya.

“Terkait dengan hal tersebut kami sudah melakukan berbagai langkah, utamanya untuk menjaga nilai tiga komoditas yaitu minyak goreng, gula dan daging khususnya daging beku,” jelasnya.

Pihaknya juga sudah melakukan pembicaraan dan penandatanganan nota kesepemahaman antara Aprindo, distributor dan agen-agennya bahwa disepakati harga eceran tertinggi untuk daging Rp80 ribu/kg, gula pasir Rp12.500/kg dan minyak goreng kemasan sederhana Rp11 ribu/kg. Kebijakan ini mulai dilaksanakan tanggal 10 April 2017.

Pihaknya ditugaskan untuk memantau harga-harga di pasar tradisional tetapi juga untuk memastikan juga bagaimana pelaksanaan nota kesepahaman yang telah dilakukan dengan APRINDO beserta pelaku usaha untuk tiga komoditas tersebut.

“Kami lihat di Provinsi Lampung untuk jejaring seperti supermarket besar sudah melaksanakannya dengan baik dan sudah sesuai dengan nilai pembelian yang disepakati. Hal ini dinilai bagus karena kami memandang jejaring ini adalah cost leader. Biasanya kalau jejaring sudah menetapkan harga itu maka di pasaran tidak akan jauh,” pungkasnya.(*)

Posting Terkait